Laman

Jangan marah sebelum membaca seluruh isi

jika anda adalah seorang akademis, bacalah seluruh isi artikel ini, jangan berhenti pada Judul saja.

Agama saya Islam Pragmatis

| Selasa, 04 Januari 2011 | |
Satu lagi agama baru saya luncurkan untuk merusak keyakinan anda. Untuk menyesatkan anda. Untuk mencuci otak anda dengan ajaran sampah dari setan seperti saya. Agar anda menjadi seorang pembangkang agama dan akhirnya lolos masuk neraka.
Ada orang yang bersikukuh menyatakan hingga berkotbah panjang lebar sambil mengutip ayat-ayat agama bahwa dirinya baik. Tapi kenyataannya pribadi dan prilakunya sama sekali tidak baik. Ini contoh pertama. Contoh kedua adalah orang yang tidak berceloteh apa-apa bahkan tidak peduli dengan segala konsep agama, tapi pribadinya baik. Nah, mana yang anda pilih?
Orang pertama berteori tentang kebaikan, tapi kenyataannya pribadinya tidak baik
Orang kedua tidak berteori tentang kebaikan, tapi kenyataannya justru pribadinya baik.
Nah, secara gamblang, pada contoh yang kedualah inti dari sikap seorang Pragmatis. Yaitu sikap yang terarah pada bukti, pada hasil, pada hal-hal yang kongkrit. Bukan pada teori dan sesuatu yang abstrak. Lebih kurang inilah kunci dari paham Pragmatisme. Sesuatu dianggap benar jika terbukti berfungsi dan ada hasilnya dalam kenyataan. Pertanyaan pokok kaum pragmatis adalah: “Apa untungnya jika saya beragama?” Bukan: “Apa yang dimaksud dengan agama?” Artinya agama akan dianggap benar jika memberi manfaat dalam kehidupan nyata. Tapi jika tidak, maka beragama sama sekali tidak ada gunanya.
Meskipun ada 3 tokoh eksponen Filsafat Pragmatisme (William James, John Dewey dan Richard Rorty), tapi pada tulisan ini titik tolak saya adalah Pragmatisme John Dewey. Sehubungan dengan tulisan ini, ada 3 kunci paham Dewey yang relevan menurut saya:

Pertama, Naturalisme
Dewey berangkat dari paham Darwin tentang teori seleksi alam. Segala hal di dunia ini berevolusi secara mekanis. Segalanya bergerak, berubah sejalan dengan mekanisme hukum alam. Tidak ada satu hal pun yang datang dan hadir secara tiba-tiba jatuh dari langit. Semuanya tetap melewati proses hukum sebab akibat. Tetap ada dinamika proses yang alamiah. Baik unsur yang inderawi maupun yang bersifat psikologis. Mengatakan bahwa anda bisa makan karena ada nasi jatuh dari langit adalah suatu kebodohan. Mengatakan anda merasa bahagia karena ada rasa yang tiba-tiba meyusup kedalam hati anda secara sim salabim dari langit juga sebuah kebodohan. Karena bila dirinci secara cermat, dibalik segala yang anda alami itu ada rangkaian mata rantai sebab akibat yang tidak pernah putus.
Karena itu sehubungan dengan ini Dewey menolak soal agama dan Tuhan. Dia seorang Prgamatis yang Atheis. Bagi Dewey agama hanya sebuah mitologi. Wahyu adalah semacam refleksi psikologis manusia dalam menghayati keberadaan hidupnya. Sehingga sebuah agama (Kitab Suci) hanya sebagai insprirasi agar manusia terstimulir untuk melakukan tindakan-tindakan yang sejalan dengan hukum alam yang dimanis.
Karena segalanya terus berubah secara dinamis, maka manusia juga harus membuka diri terhadap perubahan. Sehubungan dengan ini maka tujuan hidup manusia bukan untuk memuja Kebenaran seperti yang diwartakan oleh agama. Tapi adalah untuk membangun keberadaannya sendiri secara terus menerus. Manusia tidak mencari Kebenaran yang sudah ada dalam ilusi imajinernya, seperti dalam konsep agama. Tapi manusia justru menciptakan dan membangun kebenaran relatif kondisional terus menerus terus menerus  sesuai kondisi real yang dihadapainya, agar hidupnya lebih bermafaat dan berarti.

Kedua, Instrumentalisme
Konsekwensi dari naturalisme di atas, Dewey berpandangan bahwa pengetahuan dan keyakinan hanyalah sebuah instrumen. Sebuah alat. Bukan sebuah Kebenaran atau Hakikat. Ketika saya mengatakan bahwa bermoral itu adalah hakikat hidup, maka keyakinan saya ini hanya sebuah pendorong agar saya mau bertindak menjadi orang yang bermoral. Artinya keyakinan tidak dipahami sebagai Kebenaran Absolut yang sudah ada di langit. Atau dari Tuhan. Tapi hanya sebagai alat pemicu tindakan moral bagi manusia. Yang terpenting di sini adalah hasil. Bukti nyata. Bukan pada konsep keyakinannya. Bukan pada agamanya. Bukan pada adanya Tuhan atau tidak.
Sepanjang tindakan manusia bisa memberi hasil dalam hidup, maka itu sudah cukup. Terserah apa saja yang akan dijadikan sebagai instrumen, yang akan dijadikan sebagai alat. Mau menggunakan agama, mau meyakini Tuhan, mau Atheis, mau Liberal dan bla bla bla, sepanjang hasilnya terbukti maka itulah seorang Pragmatis. Dan itulah inti dari Instrumentalisme.
Dengan kata lain penekananya adalah pada pengalaman nyata. Saya bisa saja tahu banyak hal tentang Internet, tapi jika saya tidak bisa megoperasikannya, maka pengetahuan saya itu tidak ada gunanya. Karena tidak ada hasilnya. Tidak ada pengalaman otentik saya dengan hidup. Tidak ada kontak relasional saya dengan realitas.
Jadi yang terpenting bagi Dewey adalah be coming bukan Being. Manusia, bukan Tuhan. Bumi, bukan langit. Hari ini, bukan nanti. Praktek, bukan teori. Hasil, bukan alat.

Lalu apa hubungannya dengan Islam?
Meskipun Dewey seorang Atheis dan mendasarkan pahamnya pada naturalisme, tapi saya mengadopsi sisi pragmatisnya, yang bagi saya sangat realistis dan penuh vitalitas.
Benar Islam adalah keyakinan yang saya peluk, sebagai nilai-nilai Universal dari Tuhan. Tapi saya tidak boleh menjadikan nilai-nilai Islam itu sebagai selimut yang utopis dan ilusif . Visi sempurana Islam harus saya tarik menjadi sugesti untuk mencari berbagai kemungkian yang paling efektif dalam hidup. Kata kuncinya di sini bukan pasrah dalam buaian ayat-ayat, dalam suntikan dogma, tradisi, ceramah dan kotbah. Tapi justru harus bergerak dan terus berubah mencari kemungkinan terbaik sesuai dengan situasi dan kondisi nyata yang saya hadapi.
Menarik pola Keislaman di zaman Nabi Muhammad (Arab) ke zaman sekarang ibaratnya sama dengan memaksa anak saya berjalan kaki sejauh 20 Km ke sekolah seperti di zaman nenek saya tempo dulu. Padahal sudah ada berbagai pilihan alat transportasi yang bisa memudahkan perjalananya. Sudah ada pilihan yang lebih efektif dan efisein. Hemat dan cepat!
Karena itu jika saya ngotot, sama artinya saya menolak kenyataan bahwa dunia sudah berubah. Kehidupan sudah berevolusi dari zaman purba ke hari ini. Dari Abad Klasik ke Abad Postmodern.
Karena itu jika saya tetap ngotot, maka sama artinya Islam hanya akan menjadi belenggu. Islam akan menjadi penghambat kemajuan. Islam akan menjadi barang antik yang dipajang di lemari kaca tapi tidak bisa digunakan dalam kehidupan nyata.
Meminjam pragmatisme Dewey, selain sebagai naungan spiritual,  Islam bagi saya juga harus menjadi instrumen. Harus menjadi solusi persoalan secara praktis. Bukan kotbah sloganistis yang bertele-tele. Islam harus menjadi  sumber inspirasi. Harus menjadi dimanit yang membakar semangat. Agar hidup lebih bergairah dan bermakna.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Just the notes to make my mind development as a journal.
Diberdayakan oleh Blogger.